BAITUL MAAL WAT TANWIL MENTOR BISNIS ALUMNI ITS

PERJALANAN BARU 

 

Rekan-rekan anggota BMT Mentor Bisnis Alumni ITS yang berbahagia, dengan tidak mengenal lelah, disertai keseriusan yang luar biasa dan keikhlasan para penggagas mentorbisnis yang diprakarsai oleh cak Sugi dan cak Naryo, peserta mentor bisnis telah berhasil memulai sebuah langkah penting untuk menjadi entrepreneur dengan mendirikan BMT MBA ITS. Untuk kilas balik, agar kita tidak lupa darimana kita mulai tumbuh sehingga kedepan kita menjadi semakin kuat, kita coba mengingat kembali sebuah email undangan untuk hadir pada acara mentorbisnis tgl 29 februari 2008 yll, serta berbagai cuplikan perbincangan dibawah ini. Impiannya waktu itu adalah terbentuknya sebuah komunitas bisnis yang terdiri atas pebisnis-pebisnis alumni ITS, yang terus saling asah, kuat dan bisa dipercaya, dalam rangka melahirkan, membina dan memperkuat entrepreneur- entrepreneur ITS. Sebagai salah satu bidang kegiatan IKA ITS. Read More

 


Prospek Perbankan Syariah di Tengah Krisis Finansial Global

Prospek Perbankan Syariah di Tengah Krisis Finansial Global

Krisis finansial global membuktikan bahwa sistem ekonomi konvensional sangat rentan. Ini diharapkan menjadi titik kebangkitan sistem syariah (khususnya perbankan syariah) yang dinilai lebih imun terhadap krisis. Berikut petikan wawancara dengan Direktur Center for Islamic Economics and Business Resources Development (Cieberd) Unair Mohammad Nafik sekaligus Pengawas dari BMT MBA ITS.


Bagaimana prospek ekonomi syariah?

Prospeknya baik. Krisis finansial global membuka mata dunia bahwa sistem ekonomi syariah tahan terhadap gempuran krisis. Ekonomi Islam itu sesuai dengan etika sistem ekonomi sebenarnya. Saat ini sistem ekonomi konvensional sudah jauh dari ilmu ekonomi yang sesungguhnya.


Mengapa?

Ilmu ekonomi seharusnya membentuk manusia yang berperilaku ekonomi. Tetapi, sistem ekonomi konvensional justru mendorong orang melanggar aturan demi mencari keuntungan sebesar-besarnya. Misalnya, kasus Lehman Brothers.


Bagaimana kondisi perbankan syariah nasional?

Di tengah krisis, perbankan syariah menunjukkan kinerja cemerlang. Contohnya, financing to deposit ratio atau FDR (rasio pembiayaan dibandingkan simpanan) bank syariah nasional selama dua tahun terakhir mencapai 103-105 persen. Padahal, loan to deposit ratio (LDR) bank konvensional hanya 50-60 persen.

Tahun depan diharapkan lebih tinggi. Bisa lebih dari 20 persen. Sedangkan bank konvensional masih trauma dengan krisis sehingga tidak mematok target terlalu tinggi. Krisis juga tidak terlalu berpengaruh pada SUN syariah internasional. Meskipun turun, tidak setajam seperti SUN konvensional.

Apa saja yang mendukung pertumbuhan bank syariah?

Tahun depan akan ada lima bank umum syariah (BUS) baru, seperti BRI Syariah, BII Syariah, dan Bank Harfa (Panin Syariah). Pemisahan (spin off) unit usaha syariah akan menjadikan prospek bank syariah makin baik karena mereka bisa lebih lincah dan tidak tergantung lagi pada induknya. Spin off juga dilakukan karena pelaku melihat adanya prospek nasabah besar beralih ke bank syariah.

Selain itu, regulasi pemerintah sudah mendukung. Termasuk, UU sukuk. Meningkatnya kesadaran atas bank syariah juga memacu pertumbuhannya semakin cepat.

Bagaimana soal kendala?

Sebenarnya kuncinya ada pada pemerintah. Sebab, hingga sekarang belum ada langkah nyata. Misalnya, pemerintah tidak pernah menempatkan dananya di bank syariah. Investor Timur Tengah juga belum terlalu yakin pada perkembangan syariah nasional. Sebab, yang dijual (pemerintah) adalah sukuk ijarah sehingga dana yang masuk hanya untuk menambal defisit negara. Berbeda dengan Malaysia. Pemerintah di sana memberi dukungan penuh. Misalnya, bank BUMN sudah menjadi bank syariah.

Market share perbankan syariah masih jauh dari target 5 persen. Apa yang harus dilakukan untuk mempercepat target itu?

BI menilai, kinerja baik itu dilihat dari market share-nya besar. Padahal, untuk mengejar target itu, perbankan syariah harus menggenjot kredit korporasi. Jika lebih mengejar korporasi, lantas bagaimana dengan pembiayaan UMKM? Padahal, selama ini sektor UMKM menyumbang 53 persen dari produk domestik bruto (PDB). 

Jawapos 30 Desember 2008

 

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday53
mod_vvisit_counterYesterday115
mod_vvisit_counterThis week926
mod_vvisit_counterThis month577
mod_vvisit_counterAll39350